Hidup, Amal & Akhir HayatKu Untuk ALLAH s.w.t.

RENUNGILAH... HARGAILAH SEBUAH PERSAHABATAN KERANA DISEBALIKNYA TERSIMPUL SEGALA-GALANYA… Satu-satunya cara agar kita memperolehi kasih sayang, ialah jangan menuntut agar kita dicintai, tetapi mulailah memberi kasih sayang kepada orang lain tanpa mengharapkan balasan. (Dale Carnagie)

Saturday, May 27, 2006

..:: Karakteristik (Khashaish) Ahlu Sunnah ::..

Ahlus sunnah adalah sebutan terhadap kelompok yang selalu berpegang kepada al-Kitab dan As-Sunnah menurut pemahaman salaful Ummah, merekalah golongan selamat, maka tak ayal banyak kelompok yang mengaku sebagai bagian kelompok itu, bagaimana hakikat kelompok ini? Apa sifat-sifat mereka?
Ahlu sunnah memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh firqoh-firqoh lain yang telah keluar dari sunnah dan hadyu Rasul SAW . di antara keistimewaan itu adalah:
  1. Membatasi diri dalam hal Talaqqi hanya pada al-kitab dan al-sunnah. Aqidah, ibadah, akhlak dan suluk ukurannya adalah al-Qur`an, dan Sunnah, apa yang bersesuaian dengan keduanya diterima dan yang menyalahi keduanya ditolak.
  2. Taslim (tunduk secara total) kepada Nushush (teks-teks) syara` dan memahaminya dengan manhaj salaf. Mereka tidak pernah menolak nash meskipun belum memahami hikmanya.
  3. Sikap beragamanya adalah اتِّبَاع dan meninggalkan ابْتِدَاع . mereka tidak pernah melancangi Allah dan Rasul-Nya, tidak pernah mengangkat suara di atas suara Allah dan Rasul-Nya, dan tidak akan rela pada suara lain yang lebih tinggi dari suara Allah dan Rasul-Nya.
  4. Perhatian kepada al-Qur`an dan al-Sunnah. Mereka memperhatikan al-Qur`an dengan cara menghafal, membaca, dan menafsiri, sedangkan hadits dengan cara dirayah dan riwayah. Berbeda dengan ahli bid`ah yang lebih perhatian kepada guru-guru mereka dari pada al-Qur`an dan al-Sunnah.
  5. Berhujjah dengan sunnah yang shahih dalam hukum atau aqidah. Semua yang shahih dari Nabi SAW adalah hujjah meskipun hadits ahad.
  6. Tidak ada imam maksum kecuali Rasul Allah SWT . adapun selain Rasul maka ucapan dan perbuatan mereka ditimbang dengan al-Qur`an dan al_sunnah.
  7. Mereka adalah manusia yang paling mengenal Rasul Allah Subhanahu wata’ala . sehingga mereka adalah manusia yang paling menyintai dan palin bisa mengikuti.
  8. Beragama secara utuh dan penuh demi mengamalkan:
    ] يَاَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا ادْخُلُوا فِى السِّلْمِ كَافَّةً[ البقرة: 208 .
  9. Mengagungkan al-Salaf al-Shalih. Ahlu sunnah sangat mengagungkan ulama` salaf karena thariqat mereka adalah الأَسْلاَم (yang paling selamat), الأَعْلَم (yang paling mengerti paling sesuai dengan ilmu) dan الأَحْكَم (paling bijak).
  10. Menghimpun semua nash dalam satu masalah dan mengembalikan yang mutasabih kepada yang muhkam.
  11. Menyatukan antara ilmu dan ibadah secara tertib dan terpadu.
  12. Menyatukan antara tawakkal kepada Allah dan upaya–upaya lahiriyah yang masyru`.
  13. Menyatukan antara prinsip mengembangkan dunia dan prinsip zuhud di dalamnya.
  14. Menyatukan antara khauf, raja` dan hubb.
  15. Menyatukan antara kasih saying, lunak, keras dan kasar.
  16. Menggabungkan antara rasio dan emosi. Emosi mereka dipimpin oleh akal dan akal mereka dibimbing oleh syara`
  17. Adil. Ahlu sunnah adalah orang yang paling sempurna dalam mengamalkan prinsip keadilan.
  18. Amanah ilmiah. Ahlu sunnah adalah teladan dalam hal ini di antara bentuknya adalah: amanah dalam riwayat, jauh dari pemalsuan, penipuan, pemotongan nash dan penyimpangan tafsir.Di antara bentuk amanah ilmiah adalah ruju` kepada yang haq jika telah jelas, tidak memutuskan perkara kecuali dengn ilmu dan tidak semua pertanyaan harus dijawab, sebagaimana mereka sangat hati-hati dalam menasabkan ucapan kepada pengucapnya.
  19. Wasathiyah / tawassuth (tengah-tengah) dalam segala hal. Sebagai manifestasi firman Allah:
    ]وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا[ البقرة: 143
  20. Tidak berselisih dalam ushul I`tiqad, para salaf shalih tidak berselidih sedikitpun dalam masalah ushul, seperti dalam asma` sifat, iman, takdir dan lain-lain.
  21. Menghindari perdebatan dalam agama dan menjauhi orang-orang yang menjadikan agamanya menjadi bahan perdebatan.
  22. Berusaha keras menyatukan suara umat islam di atas kebenaran karena melaksanakan firman Allah dalam surat ali-imran ayat 102-103.
  23. Berwawasan luas. Mereka berlapang dada, selalu berusaha mencarikan udzur jika mungkin, tidak keberatan menerima kebenaran dari siapapun. Mereka tidak memaksakan ijtihadnya kepada orang lain, mereka jauh dari ta`assub, taqlid buta dan tahazzub yang sempit.
  24. Berakhlak mulia sesuai dengan ukuran sunnah.
  25. Ahli berdakwah, mengajak manusia kepada Allah.
  26. Bersih hati dan lisannya terhadap sahabat Rasul Allah Subhanahu Wata’ala .
  27. Selamat dari kebingunan, keraguan dan pertentangan dalam keyakinan.
    Berbeda dengan ahli kalam yang banyak mengalami kebingunan, sebagai contoh adalah:
    (a) Fahruddin al-Razi (606) menyesali perjalanan hidupnya yang panjang dalam ilmu kalam setelah ia memegang mahkota filsafat. Dia berkata :
    نِهَيَةُ إِقْدَامِ الْعُقُوْلِ عِقَالُ وَغَايَةُ سَعْيِ الْعَالَمِيْنَ ضَلاَلُ
    وَأَرْوَاحُنَا فِى وَحْشَةِ مِنْ جُسُوْمِنَا وَغَايَةُ دُنْيَانَا أَذًى وَوَبَالُ
    وَلَمْ نَسْتَفِدْ مِنْ بَحْثِنَا طُوْلَ عُمْرِنَا سِوَى أَنْ جَمَعْنَا فِيْهِ قِيْلَ وَقَالُوا
    وَكَمْ قَدْ رَأَيْنَا مِنْ رِجَالٍ وَدَوْلَةٍ فَبَادُوا جَمِيْعًا مُسْرِعِيْنَ وَزَالُوا
    وَكَمْ مِنْ جِبَالٍ قَدْ عَلَتْ شُرَفَاتُهَا رِجَالٌ فَزَالُوا وَالْجِبَالُ جِبَالُ
    Akhir pengembaraan akal adalah kebuntuhan.
    Akhir upaya manusia adalah kesesatan.
    Arwah kami dalam kesepian di tubuh ini.
    Dan akhir dunia kami adalah kesakitan dan petaka
    Kami tidak memperoleh dari penelitian kami sepanjang usia
    Kecuali hanya kumpulan “ katanya” dan “kata mereka”
    Betapa banyak para tokoh negri-negri telah kami saksikan segera mereka semua musnah dan sirna
    Betapa banyak gunung yang menjulang tinggi
    Orang-orang telah hancur, sedang gunung tetap gunung.
    (b) Syaharastani (548) yang mengatakan:
    لَعَمْرِى لَقَدْ طُفْتُ الْمَعَاهِدَ كُلُّهَا وَقَلَّبْتُ طَرْفِى بَيْنَ تِلْكَ الْمَعَالِمِ
    فَلَمْ أَرَ إِلاَّ وَاضِعًا كَفَّ حَائِرٍ عَلَى ذَقَنٍ أَوْ قَارِعًا سِنَّ نَادِمِ
    Aku bersumpah, sungguh aku telah keliling pada semua ma`hads
    Aku telah membolak-balikkan mataku (memperhatikan) semua yang ada di tempat itu
    Ternyata aku tidak melihat kecuali orang yang berpangku tangan karena bingung atau menggigit jari karena menyesal
    Selain itu tokoh-tokoh kalam yang menyesal adalah al-Juraini, al-Ghozali, al-Khasru Syahi dan lain-lain. Adapun penyesalan dari tokoh-tokoh kafir maka lebih banyak dari itu.
  28. Tatsabut dalam kabar berita tidak tergesa-gesa dalam menjatuhkan hukum.
  29. Mendapatkan busyra disaat menunggal.
  30. Mendapatkan kebaikan yang dilipatgandakan dan derajat yang ditinggikan.
    “Ya Allah segala puji bagi-Mu yang telah menjadikan kami dari golongan ahli sunnah, kami mohon sempurnakanlah nikmat dan anugerah ini kepada kami, tetapakanlah kami di atas sunnah, beramal sesuai dengan sunnah dan wafatkan kami di atas jalan sunnah.
    وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ
    Ust. Abu Hamzah al-Sanuwi, Lc.
    Maraji`
    1. Aqidah Ahlu Sunnah wa al-Jama`ah, Muhammad Ibrahim al-Hamid
    2. Mukhtashar Aqidah Ahlu sunnah wa al-Jama`ah, divisi dakwah maktab ta`awun Riyadh

0 Comments:

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home


Tips, educate child, teenagers, adults in daily lifestyles.



My blog is worth $0.00.
How much is your blog worth?


HACKER SAFE certified sites prevent over 99.9% of hacker crime.
 
..:: LARANGAN BERSEMBAHYANG DALAM KEADAAN MABUK DAN JUNUB ::..
"Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu hampiri sembahyang (mengerjakannya) sedang kamu dalam keadaan mabuk, hingga kamu sedar dan mengetahui akan apa yang kamu katakan dan janganlah pula (hampiri masjid) sedang kamu dalam keadaan Junub (berhadas besar) kecuali kamu hendak melintas sahaja hingga kamu mandi bersuci dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau salah seorang di antara kamu datang dari tempat buang air atau kamu bersentuh dengan perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air (untuk mandi atau berwuduk), maka hendaklah kamu bertayamum dengan tanah (debu) yang suci, iaitu sapukanlah ke muka kamu dan kedua tangan kamu. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf, lagi Maha Pengampun."[Maksud Firman Allah Taala Surah An-Nisa' :43]