Hidup, Amal & Akhir HayatKu Untuk ALLAH s.w.t.

RENUNGILAH... HARGAILAH SEBUAH PERSAHABATAN KERANA DISEBALIKNYA TERSIMPUL SEGALA-GALANYA… Satu-satunya cara agar kita memperolehi kasih sayang, ialah jangan menuntut agar kita dicintai, tetapi mulailah memberi kasih sayang kepada orang lain tanpa mengharapkan balasan. (Dale Carnagie)

Sunday, March 19, 2006

Anjuran Bertaubat Kepada Allah Di Saat Bencana Menimpa

Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta`ala dengan hikmah-Nya yang dalam, hujjah-Nya yang pasti dan ilmu-Nya yang meliputi segala sesuatu memberi bencana dan cobaan terhadap para hamba-Nya, untuk menguji kesabaran mereka ketika ditimpa musibah, maka siapa yang menerimanya dengan kesabaran dan ketundukan diri, mengadukan dosa-dosa dan kelalainnya kepada-Nya dan memohon curahan rahmat dan ampunan-Nya, niscaya ia adalah orang yang beruntung dan mendapatkan kesudahan yang terpuji, Allah berfirman dalam kitab-Nya:

(( الم. أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوْا أَنْ يَقُوْلُوْا ءَامَنَّا وَهُمْ لاَ يُفْتَنُوْنَ. وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللهُ الَّذِيْنَ صَدَقُوْا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِيْنَ ))

Aliif laam mim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan, "kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi ? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta." (Q.S; Al `Ankabuut: 1-3).
Di dalam ayat yang lain Allah berfirman:

(( وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً أَتَصْبِرُوْنَ وَكَانَ رَبُّكَ بَصِيْرًا ))

Dan Kami jadikan sebahagian kamu cobaan bagi sebahagian yang lain. Maukah kamu bersabar?; Dan adalah Tuhanmu Maha Melihat." (Q.S; Al Furqaan; 20).
Di dalam ayat yang lain Allah juga berfirman:

(( وَبَلَوْنَا هُمْ بِالْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ ))

Dan Kami coba mereka dengan (ni`mat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran)." (Q.S; Al A`raaf: 168).
Maksud "yang buruk-buruk" : adalah (bencana), seperti: wabah penyakit, penjajahan oleh musuh, gempa bumi, angin topan, banjir yang melanda dan lain-lain.
Allah berfirman:

(( ظَهَرَ الْفَسَادُ فِيْ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ ))

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." (Q.S; Ar Ruum; 41).
Maksud ayat di atas adalah: Allah subhanahu wa ta`ala telah mentakdirkan segala bencana yang terjadi, agar manusia kembali kepada jalan yang benar, bergegas bertaubat meninggalkan maksiat yang mereka lakukan, dan bersegera berbuat kebajikan serta ketaatan, karena kekufuran dan maksiat adalah pangkal segala bencana dan kehancuran di dunia dan akhirat.
Sebaliknya mentauhidkan Allah, beriman kepada-Nya dan rasul-Nya, berpegang teguh dengan syariat-Nya, dan meingkari orang yang melanggar hal diatas adalah sebab kebahagiaan, kesuksesan, kejayaan dan keselamatan dunia-akhirat, seperti yang difirmankan Allah:

(( وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى ءَامَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوْا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ ))

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya." (Q.S; Al A`raaf: 96).
Allah telah menjelaskan di dalam banyak ayat Al quran bahwa bencana, siksaan dan azab yang menimpa umat-umat terdahulu, berbentuk; topan, angin bahorok, petir yang menyambar, banjir yang menenggelamkan, negeri yang dibenamkan, dan lain-lain, semuanya dikarenakan dosa-dosa dan kekafiran mereka, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta`ala:

(( فَكُلاًّ أَخَذْنَا بِذَنْبِهِ فَمِنْهُمْ مَنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا وَمِنْهُمْ مَنْ أَخَذَتْهُ الصَّيْحَةُ وَمِنْهُمْ مَنْ خَسَفْنَا بِهِ الْأَرْضَ وَمِنْهُمْ مَنْ أَغْرَقْنَا وَمَا كَانَ اللهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَكِنْ كَانُوْا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُوْنَ ))

Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka diantara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan diantara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan diantara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan diantara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merakalah yang menganiaya diri mereka sendiri." (Q.S; Al `Ankabuut; 40).
Dan Allah berfirman:

(( وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيْبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُوا عَنْ كَثِيْرٍ ))

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)." (Q.S; Asy Syuura: 30).
Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya bertaubat dan menundukkan diri kepada-Nya disaat bencana datang menimpa, Dia berfirman:

(( وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلىَ أُمَمٍ مِنْ قَبْلِكَ فَأَخَذْنَا هُمْ بِالْبَأْسآءِ وَالضَّرَّآءِ لَعَلَّهُمْ يَتَضَرَّعُوْنَ . فَلَوْلاَ إِذْ جَآءَهُمْ بَأْسُنَا تَضَرَّعُوْا وَلَكِنْ قَسَتْ قُلُوْبُهُمْ وَزَيَّنَ لَهُمْ الشَّيْطَانُ مَا كَانُوْا يَعْلَمُوْنَ ))

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat yang sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka bermohon (kepada Allah) dengan tunduk dan merendahkan diri. Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka, bahkan hati mereka telah menjadi keras dan syaitan pun menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan." (Q.S; Al An`aam: 42-43).
Allah dalam ayat-ayat yang mulia di atas menganjurkan dan menghimbau hamba-hamba-Nya –bila bencana datang melanda; wabah penyakit, peperangan, gempa bumi, angin puting beliung dan lain-lain- agar mereka memohon curahan rahmat dengan tunduk dan menghinakan diri dan memohon pertolongan-Nya. Inilah makna firman-Nya:

فَلَوْلاَ إِذْ جَآءَهُمْ بَأْسُنَا تَضَرَّعُوْا

Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka.
Akan tetapi kekerasan hati hamba-hamba tersebut, dan godaan syaitan terhadap mereka (dengan mengatakan umpamanya; sunami ini dikarenakan pertemuan lempeng benua dan terjadi secara berkala dan tidak ada hubungannya dengan dosa manusia dan lain-lain) membuat mereka berpaling dari bertaubat, menundukkan diri dan beristighfar, ini maksud firman Allah:

وَلَكِنْ قَسَتْ قُلُوْبُهُمْ وَزَيَّنَ لَهُمْ الشَّيْطَانُ مَا كَانُوْا يَعْلَمُوْنَ

Bahkan hati mereka telah menjadi keras dan syaitan pun menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan.
Diriwayatkan bahwa khalifah Umar bin Abdul Aziz menitahkan kepada seluruh para gubernurnya agar memerintahkan seluruh rakyatnya (umat islam) untuk bertaubat, memohon kepada Allah dengan menundukkan diri dan beristighfar dari dosa-dosa, ketika gempa melanda sebagian wilayah pemerintahannya.
Sewajarlah kita sebagai yang beragama Islam untuk melakukan taubat nashuha menyikapi bencana yang melanda didunia kita belakangan ini (Sunami, gempa bumi, krisis ekonomi dan lain-lain), bukannya malah semakin bangkang di hadapan Allah.
Allahummaghfirlana zunuubana, warham dha`fana… Amiin.

Disarikan dari buku: "wujubuttaubah ilaAllah waddhara`ah `inda nuzuulul masha`ib" karangan: Syeikh Abdul Aziz bin Abdullah Bin Baaz.

0 Comments:

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home


Tips, educate child, teenagers, adults in daily lifestyles.



My blog is worth $0.00.
How much is your blog worth?


HACKER SAFE certified sites prevent over 99.9% of hacker crime.
 
..:: LARANGAN BERSEMBAHYANG DALAM KEADAAN MABUK DAN JUNUB ::..
"Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu hampiri sembahyang (mengerjakannya) sedang kamu dalam keadaan mabuk, hingga kamu sedar dan mengetahui akan apa yang kamu katakan dan janganlah pula (hampiri masjid) sedang kamu dalam keadaan Junub (berhadas besar) kecuali kamu hendak melintas sahaja hingga kamu mandi bersuci dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau salah seorang di antara kamu datang dari tempat buang air atau kamu bersentuh dengan perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air (untuk mandi atau berwuduk), maka hendaklah kamu bertayamum dengan tanah (debu) yang suci, iaitu sapukanlah ke muka kamu dan kedua tangan kamu. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf, lagi Maha Pengampun."[Maksud Firman Allah Taala Surah An-Nisa' :43]