Hidup, Amal & Akhir HayatKu Untuk ALLAH s.w.t.

RENUNGILAH... HARGAILAH SEBUAH PERSAHABATAN KERANA DISEBALIKNYA TERSIMPUL SEGALA-GALANYA… Satu-satunya cara agar kita memperolehi kasih sayang, ialah jangan menuntut agar kita dicintai, tetapi mulailah memberi kasih sayang kepada orang lain tanpa mengharapkan balasan. (Dale Carnagie)

Sunday, March 19, 2006

..:: Hukum Memperingati Acara Maulid Nabi ::..

Segala puji bagi Allah ,shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada Rasulullah saw, keluarga dan sahabat-sahabatnya,..
Amma ba'du :

Tidak syak lagi bahwasannya Allah ta'ala mengutus Nabi Muhammad saw dengan membawa petunjuk dan agama yang haq, yaitu ilmu yang memberikan manfaat dan amal shalih dan Allah tidak memanggilnya ke haribaan-Nya terkecuali setelah Dia menyempurnakan agama baginya dan umatnya, juga menyempurnakan nikmat –Nya , Allah ta'ala berfirman :
{ الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِينًا }
"Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku dan telah Ku-ridha'I Islam itu jadi agama bagimu". ( Q.S ; Al-maidah : 3 ) .

Allah ta'ala menjelaskan melalui ayat ini bahwa Dien ini telah sempurna dan telah cukup nikmat pemberian-Nya, oleh karena itu barang siapa yang mengadakan bid'ah baru dalam agama ini berarti dia telah membuat syari'at baru, maka umat Islam semestinya mempunyai perhatian yang besar dan memahami masalah ini dengan baik .

Pembuat bid'ah seolah-olah dia mengatakan bahwa agama islam belum sempurna, yang memerlukan penambahan dan penyempurnaan, maka sangatlah jelas bagi kita bahwa statement ini bathil, bahkan merupakan bentuk kedustaan terbesar terhadap Allah ta'ala dan berbenturan dengan makna yang terkandung dari ayat diatas .

Jika sekiranya acara peringatan maulid nabi disyari'atkan niscaya Rasulullah saw telah menjelaskannya kepada umat ,karena beliau adalah penasehat umat ,tiada nabi sesudahnya, beliaulah penghulu para nabi, beliau telah menerangkan dengan terang benderang kewajiban kita terhadap beliau seperti mencintainya, ittiba' kepada syari'atnya, menyampaikan shalawat dan salam kepadanya, dan lain sebagainya yang terkandung didalam al-Qur'an dan sunnah, dan tidak pula beliau mengisyaratkan bahwa peringatan maulidnya merupakan perkara yang disyari'atkan serta beliau tidak pernah mengadakan acara maulid hingga akhir hayatnya, begitu pula para sahabat yang paling memahami dien sesudah beliau tidak pernah melakukannya khususnya khulafaur-rasyidin, para tabi'in dan tabi'ut-tabi'in mengikuti jejak sahabat tidak ada acara peringatan maulid, demikianlah tiga kurun waktu generasi terbaik umat ini tidak pernah menyelenggarakan peringatan maulid.
Bila kita mengetahui dengan baik bahwasannya peringatan maulid Nabi tidak ada pada masa Rasulullah saw, tidak pula pada masa sahabatnya yang mulia, tidak juga pada masa tabi'in dan tabi'ut-tabi'in maka kita dapat menyimpulkan bahwa peringatan maulid adalah bid'ah baru dalam agama, tidak diperbolehkan untuk melakukannya, mendiamkan orang lain melakukannya, dan mendakwahkannya bahkan kita dituntut untuk memngingkarinya serta mengingatkan umat akan bahayanya sebagai manifestasi dari sabda Rasulullah saw ketika beliau berkhutbah pada hari Jum'at :
(: فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم وَشَرَّ الْأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ )
"Sesungguhnya perkataan yang paling baik adalah kitab Allah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah saw, dan perkara yang paling buruk adalah perkara yang baru dan setiap bid'ah adalah tersesat" ( H.R ; Muslim ).
Begitu pula sabdanya :
( عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ مِنْ بَعْدِيْ تَمَسَّكُوْا بِهَا وَعَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ )
"Berpegang teguhlah kepada sunnahku dan sunnah khulafaur-rasyidin sesudahku, peganglah ia dan gigitlah dengan gerahammua dan jauhilah setiap perkara yang baru, karena setiap perkara yang baru adalah bid'ah dan setiap bid'ah adalah tersesat ".
Begitu pula sabdanya :
( (مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ )
"Barangsiapa yang mengadakan suatu amalan yang baru didalam agama yang tidak ada contohnya dari kami, maka amalannya tertolak ".
( Muttafaq 'alaih ) .
Dan juga sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam :
( مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ )
"Barang siapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami ,maka amalannya tertolak ". ( H.R ; Muslim ).
Dan dimaklumi bagi setiap muslim yang memiliki dasar pijakan ilmu dan bashirah (mata hati) walau lemah, sesungguhnya mengagungkan Nabi saw bukanlah dengan jalan bid'ah sebagaimana peringatan maulid Nabi, akan tetapi dengan jalan mencintai dan ittiba' ( mengikuti ) syari'atnya, dan mengagungkannya, berdakwah kepadanya serta memerangi setiap penyimpangan seperti : bid'ah dan pengagum hawa nafsu, Allah ta'ala berfirman :
{ قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ }
"Katakanlah :"Jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu ".
( Q.S; Ali-Imran : 31 ) .
Begitu pula dalam ayat yang lain Allah berfirman :
{ وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا }
"Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia ,dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah ". ( Q.S; Al-Hasyr : 7 ).

Di dalam hadits shahih, dari Nabi saw bersabda :
( كُلُّ أُمّتِيْ يَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ إِلاَّ مَنْ أَبَى ، قِيْلَ يَا رَسُوْلَ اللَّهِ : وَمَنْ يَأْبَى ؟ قَالَ : مَنْ أَطَاعَنِيْ دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِيْ فَقَدْ أَبَى )
"Sesungguhnya umatku seluruhnya masuk surga terkecuali mereka yang enggan, para sahabat bertanya : Siapakah yang enggan itu wahai Rasulallah ? Rasul menjawab : Barangsiapa yang taat kepadaku masuk surga dan barangsiapa yang bermaksiat kepadaku berarti dia telah enggan ( masuk surga ) ".
( H.R ; Bukhari ).

Pengagungan Rasulullah saw bukanlah hanya disatu waktu tanpa waktu-waktu yang lain atau satu tahun tanpa tahun-tahun yang lain, bahkan hal ini termasuk pemetakan dalam amal, akan tetapi pengagungan dan penghormatan terhadap Rasulullah saw dilakukan dalam setiap waktu dengan jalan mengagungkan sunnahnya, beramal dengannya, berdakwah kepadanya dan mengingatkan manusia akan bahaya jika menyalahinya, serta menggambarkan amalan-amalan baik Rasulullah saw, akhlaknya yang terpuji, memberikan nasihat kepada umatnya dengan penuh keikhlasan, dan dengan jalan memperbanyak mengucapkan shalawat dan salam kepadanya, serta memberikan khabar gembira kepada manusia bila melakukan amalan baik tersebut, maka inilah bentuk pengagungan yang disyari'atkan Allah dan Rasulnya kepada umatnya, kepada mereka Allah telah memberikan balasan dan ganjaran yang baik serta menganugerahkan kepada mereka Izzah ( kemuliaan) di dunia dan kebahagiaan yang abadi di akherat kelak.
Maka menjadi kewajiban bagi para ulama dan para penguasa (pemimpin) umat Islam didunia untuk menjelaskan kepada manusia bid'ah maulid nabi dan bid'ah-bid'ah yang lainnya, mengingkari mereka yang menyelenggarakannya, serta melarang mereka untuk menghadiri acaranya sebagai nasehat karena Allah dengan tulus dan menjelaskan kepada manusia yang berada dibawah kekuasaannya dari kaum muslimin sesungguhnya pengagungan terhadap Rasulullah saw dan nabi-nabi yang lain serta para shalihin adalah dengan jalan mengikuti jejak mereka, berjalan diatas manhaj mereka yang lurus, mengajak manusia untuk melaksanakan syari'at Allah dan Rasul-Nya,dan mengingatkan umat akan bahaya menyalahi sunnahnya.

Maka setiap muslim berkewajiban untuk memberikan nasihat buat pribadinya agar senantiasa bertakwa kepada Allah ta'ala disetiap sisi kehidupannya, mengevaluasi dirinya tentang amalan-amalan yang telah diukir didalam hidupnya, berpijak diatas hukum-hukum Allah dan tidak melakukan bid'ah dalam agama yang tidak di izinkan Allah ta'ala, karena agama ini telah sempurna dan telah dicukupkan nikmat pemberian-Nya, sedangkan Rasulullah saw berpulang keharibaan-Nya dan meninggalkan umatnya dalam taman yang dipenuhi dengan cahaya Ilahi ,tiada yang perpaling darinya melainkan akan hancur binasa .
Akhirnya kita memohon kepada Allah ta'ala agar senantiasa menyinari hidayah-Nya kepada kita dan kaum muslimin dan menunjukan kita jalan yang lurus, memelihara dan menjaga kita dari setiap bid'ah dan arus hawa nafsu, menganugerahkan kepada kita semua agar tetap berpijak diatas jalan sunnahnya, mengagungkannya, mendakwahkannya, mengingkat umat yang menyalahi sunnahnya, dan semoga Dia memberikan taufiq-Nya kepada para pemimpin umat islam dan para ulama supaya menunaikan kewajiban mereka dengan baik dengan jalan menolong al-haq dan mengikis habis setiap bentuk keburukan (kejelekan), mengingkari bid'ah dan menghancurkannya. Dia-lah penolong kita dan sandaran kita semua.
Shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, keluarganya dan sahabat-sahabatnya …Amiiiin.
Di sarikan dari surat kabar " Al-Adhwa' ", dan diterjemahkan oleh :
Abu Ja'far El-Thoyyar Fir'adi Nasruddin, Lc .

0 Comments:

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home


Tips, educate child, teenagers, adults in daily lifestyles.



My blog is worth $0.00.
How much is your blog worth?


HACKER SAFE certified sites prevent over 99.9% of hacker crime.
 
..:: LARANGAN BERSEMBAHYANG DALAM KEADAAN MABUK DAN JUNUB ::..
"Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu hampiri sembahyang (mengerjakannya) sedang kamu dalam keadaan mabuk, hingga kamu sedar dan mengetahui akan apa yang kamu katakan dan janganlah pula (hampiri masjid) sedang kamu dalam keadaan Junub (berhadas besar) kecuali kamu hendak melintas sahaja hingga kamu mandi bersuci dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau salah seorang di antara kamu datang dari tempat buang air atau kamu bersentuh dengan perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air (untuk mandi atau berwuduk), maka hendaklah kamu bertayamum dengan tanah (debu) yang suci, iaitu sapukanlah ke muka kamu dan kedua tangan kamu. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf, lagi Maha Pengampun."[Maksud Firman Allah Taala Surah An-Nisa' :43]